Kamis, 01 April 2010

Si Ayam dan Sang Naga

"Jangan mentang-mentang tampan dan anak pengusaha, Anda merasa pasti sukses pak. Itu cuma ada di film. Tampan saja tidak cukup," demikian kata King Hades suatu ketika. Seperti yang sudah ditulis beliau beberapa waktu lalu, kesenjangan status di antara kami berdua memang cukup besar. Saya yang sudah menjadi pimpinan perusahaan, dengan King Hades yang 'hanya' pegawai menengah. Namun hal tersebut tak menghalangi kami untuk tetap bersahabat. Sampai baru-baru ini. Rasa iri yang diungkapkan King Hades semakin memuncak. Beliau merasa bahwa kerja kerasnya sia-sia. "Anda, si beep beep beep (sensor) mana tau rasanya berjuang? Rasanya memikul tanggung jawab?" maki King Hades ketika saya menanyakan kabarnya. Ga nyambung bukan? Tapi itulah yang terjadi. Semakin maju karir beliau, semakin tebal koceknya, semakin banyak pengalamannya, semakin seringlah keluar serapahannya. Penyebabnya cuma satu: rasa iri pada pria tampan yang kerjanya hanya main-main saja ini.

Kekayaannya yang ribuan kali lebih banyak dari saya sama sekali tak bisa meredakan kemarahan beliau. "Anda tak perlu khawatir apa-apa pak! Segala sesuatu sudah terjamin. Pernahkah Anda merasakan tekanan untuk membayar cicilan? Kebutuhan sehari-hari? Ancaman terhadap karir anda? Tidak pernah bukan? beep beep beep (sensor) seperti Anda kan dengan mudah mendapatkan segala yang Anda butuhkan," begitulah makian 'sang raja' yang sekarang cukup sering saya dengar. Rasanya, sampai kesenjangan status di antara kami berdua menyempit, saya masih akan mendapatkan kata-kata seperti itu.

Terus terang saya heran mengapa King Hades bisa iri pada saya. Boleh jadi saya adalah sang pimpinan. Tapi jabatan itu saya dapatkan bukan setelah saya membuktikan diri bahwa saya mampu. Jabatan itu saya dapat semata-mata karena saya adalah putra sang pemilik. Di sisi lain, kemajuan King Hades dalam karirnya didapat melalui perjuangan. "Tidak ada rahasia pak. Yang ada hanyalah kesengsaraan," jawab beliau ketika saya tanya rahasia kedahsyatannya. Pada saat saya mengungkapkan keinginan saya untuk ikut sengsara, beliau langsung tertawa. "Anda? Ingin sengsara?" tanyanya meremehkan. Anehnya, mendapatkan perlakuan seperti itu, saya justru lebih senang dibandingkan mendapatkan pujian-pujian. Saya merasa kata-kata makian dari beliau memacu saya untuk terus berjuang. Walaupun saya tak yakin apakah yang saya sebut sebagai 'perjuangan' sesuai definisi King Hades. Kalau disuruh bertaruh, saya lebih memilih untuk bilang bahwa itu tidak sama. Di mata saya, King Hades adalah seorang pria yang dahsyat. Kecerdasan, pengalaman, kegigihan, dan perjuangan beliau menjadi inspirasi yang luar biasa bagi saya. Dan saya bertambah kagum lagi setiap kali membayangkan hal-hal seperti apa saja yang sudah dilalui beliau hingga beliau bisa sampai seperti sekarang ini. Yang pasti, hal-hal tersebut belumlah pernah saya lalui.

"Tampan saja tidak cukup"


Dulu, saya suka mengatakan bahwa saya ini adalah ayam, dan beliau adalah rajawali. Dan adalah hal yang aneh kalau dua makhluk ini bisa berkawan. Sekarang, saya mengatakan bahwa saya adalah (masih) ayam, dan beliau adalah naga. Dan lebih aneh lagi kalau dua makhluk ini bisa berkawan. Seorang kawan King Hades memberikan jawaban: 'ayam bersahabat dengan naga, jadinya naga punya korban buat disembur'. Ya. Saya selalu mendapat semburan murka beliau.

'Ku slalu membanggakanmu. Kaupun slalu menyanjungku' adalah kalimat yang pernah King Hades ucapkan pada saya. Memang. Dulu beliau sangat mengagumi saya. Menurutnya, saya adalah pria yang ingin maju, berintegritas, cerdas, dan berkharisma. Tapi seperti saya sudah katakan tadi, semakin keras beliau berusaha, semakin terlihatlah bahwa saya 'bagaikan orang yang tak pernah meninggalkan bangku kuliah'. Saya sangat ingin maju. Agar bisa semakin mendekati level sahabat saya ini (anehnya, beliau juga mengatakan hal yang sama). Namun, jangankan berusaha. Harus memulai dari mana saja saya masih suka bingung. Parahnya, beliau tak lagi mau memberikan saran pada saya. "Saran saya kan cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan pak?" sindirnya. Yah... memang ada benarnya sih. Tapi mau bagaimana? Saran sang naga tentunya sulit sekali untuk dijalankan oleh si ayam (King Hades, pengertian dikit dong).

Mungkin masih jauh bagi si ayam yang tampan ini untuk bisa mengangkasa. Tapi, selama masih bersahabat dengan King Hades, selama masih mendapat semburan serapahannya, saya akan senantiasa mendapatkan motivasi untuk terus maju. Saya yakin di antara para pembaca ada yang pernah mengalami hal serupa. Entah Anda ada di posisi King Hades, atau posisi saya. Apabila Anda di posisi sang naga, berbelas kasihanlah sedikit terhadap kawan Anda (jangan seperti King Hades). Apabila Anda di posisi saya, bersyukurlah Anda masih memiliki sahabat yang setia menyembur Anda dengan kata-kata 'motivasi'. Dan jangan lupa mempraktekan saran yang Anda terima (jangan seperti saya).




Minggu, 31 Januari 2010

The Wisdom of Cerberus

Pada kesempatan kali ini, saya memberikan kesempatan pada King Hades untuk memberikan sumbangan artikel. Saat membaca judulnya, saya sudah bisa menduga bahwa isinya pastilah pembohongan publik, seperti yang sudah biasa dilakukan oleh 'sang raja'. Dan ternyata benar. Moga-moga saja para pembaca tidak mendapatkan kesan yang salah. Ambilah makna dari artikel ini (kalau ada), dan lupakan yang tidak masuk akal. Selamat membaca karya King Hades.


The Wisdom of Cerberus

Cerberus sudah menjadi sahabat saya selama jutaan abad. Saya menyaksikan sendiri transformasi Cerberus dari seorang pria yang tenang menjadi, well, pria yang tenang. Dia adalah pria yang cerdas, berkharisma, ulet, gigih, dan bertanggung jawab. Tapi yang sangat menginspirasi dari dia adalah ketenangannya. Di mata saya, dia adalah seorang pria yang sudah mencapai tahap Nirvana, keadaan tanpa keinginan. Mungkin sulit dipercaya. Seorang pria muda, dengan background keluarga pengusaha, bisa tidak tertarik dengan kemewahan dunia. Wanita, judi, mobil, minuman keras, jabatan, semua tidak ada yang menarik di hadapan Cerberus.

Ironis memang. Saya, yang menjadikan kemewahan sebagai tujuan hidup, bersahabat dengan Cerberus yang tak melihat kemewahan sebagai sesuatu yang patut untuk diperjuangkan. Tapi mungkin dengan demikian saya bisa menjadi lebih tenang, melihat Cerberus dalam segala kesederhanaannya berkata 'don mai, don mai'. Berulang kali saya berusaha menekankan pada dirinya bahwa seorang pria sudah selayaknya berjuang demi kemewahan. Demi kekayaan. Tapi, berulang kali pula saya gagal. Ketenangannya.... Melampaui akal sehat manusia. Memang bisa dimengerti. Latar belakang keluarga mungkin turut berperan dalam hal ini. Saya yang harus luntang-lantung setelah lulus kuliah, berjuang mencari penghasilan, dengan Cerberus yang walaupun sempat luntang-lantung, masih memiliki safety net, bisa ikut bekerja di perusahaan keluarga. Mungkin itu yang membuat Cerberus begitu tenang.


"...seorang pria yang sudah mencapai tahap Nirvana"

Inspirasi yang saya dapat dari dia bisa dibilang bukanlah inspirasi yang mendorong untuk terus berjuang. Inspirasi yang bisa kita dapatkan dari pria yang satu ini justru inspirasi yang mendorong kita untuk 'mengurangi kecepatan'. Untuk menjaga agar RPM kita tidak berada di garis merah. Sebagai contoh, waktu saya tertumpas di meja poker, beliau mengatakan 'Tidak apa pak. Toh itu kan Anda lakukan hanya sebagai relaksasi? Untuk melepaskan kepenatan karena kesibukan Anda sehari-hari'. Cerberus adalah seorang pria yang down to earth. Dia selalu mengingatkan pada saya untuk 'melihat ke bawah'. Ya. Kalau memang Cerberus ada di bawah, bagaimana mungkin saya tidak melihat ke bawah? Dia adalah sahabat saya. Dalam percakapan dengan salah seorang penggemarnya, saya sempat mengatakan "Bukan apa yang dia miliki yang membuatnya berbeda dari pria lain. Melainkan apa yang tidak dia miliki: keinginan," Keinginan untuk hidup makmur. Keinginan untuk bergelimang harta. Ketiadaan keinginan ini membuat Cerberus begitu tenang. Berbeda dengan orang-orang lain yang penuh ambisi. Berjuang, mengorbankan tenaga, waktu, dan emosi. Demi memperoleh harta.

Setiap kali saya ingat akan Cerberus, saya merasa segala yang saya miliki, saya nikmati, adalah sia-sia. Bagaimana tidak? Tanpa segala macam kemewahan, Cerberus tetap dapat hidup tenang, damai, dan bahkan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Kalau ada satu hal yang ingin saya tiru dari Cerberus, itu adalah ketenangannya. Seandainya saya memiliki 10% dari ketenangannya, mungkin hidup saya akan jauh lebih bahagia. Dulu saya memiliki teori bahwa harta berbanding lurus dengan kebahagiaan. Semakin banyak harta, semakin bahagia. Ironisnya, sahabat saya ini adalah salah seorang yang menghancurkan teori saya. Dia dengan gemilang menunjukan bahwa seseorang bisa hidup tenang dan damai tanpa banyak harta. Teori saya: kebahagiaan datang dari luar (eksternal). Tergantung dari apa saja yang bisa kita miliki dan nikmati. Teori Cerberus: kebahagiaan datang dari dalam. Tidak tergantung dari apa yang kita miliki. Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda termasuk orang yang bekerja keras demi kemewahan? Ataukah seperti Cerberus? Seorang yang tenang, yang tidak silau oleh harta. Yang menginspirasi sahabatnya bukan dengan performance yang bombastis. Melainkan dengan ketenangannya.



Demikianlah artikel sumbangan dari King Hades.

Kamis, 19 November 2009

The Silent Evidence

Suatu ketika saya dan sahabat saya sedang menikmati masakan jepang di sebuah mall. Adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi kalau saya dan beliau makan di restoran seperti ini. Biasanya kami makan di food court, atau ngobrol-ngobrol di cafe. Yah.. bolehlah, sesekali menikmati masakan seperti ini. Walaupun harus saya akui, ini cukup berat buat kocek saya.

"Anda tau yang disebut dengan silent evidence pak?" tanya 'sang raja'. "Bukti yang diam?" jawab saya, sekedar mentranslasikan kalimat beliau. "Iya pak. Manusia itu makhluk yang aneh. Mereka seringkali hanya melihat yang terlihat. Mereka tak melihat apa yang tidak terlihat," tutur King Hades. Dalam hati saya berpikir "Itu sih Anda saja yang aneh pak. Bagaimana kita mau melihat apa yang tidak terlihat?"

Penasaran dengan istilah aneh tersebut, saya meminta beliau untuk menjabarkan apa yang beliau maksud. "Bayangkan bahwa Anda dan saya adalah 2 orang penjaga malam. Asumsikan kita memiliki kemampuan dan pengalaman yang setara. Anda dinas hari Senin, saya Selasa. Anda Rabu, saya Kamis. Bergantian terus," ujarnya memulai penjelasan. Saya mendengarkan dengan seksama. "Bayangkan juga ada seorang maling yang bermaksud mencuri dari tempat yang kita jaga. Pada hari Senin, Anda yang menjaga. Melihat aura Anda yang mengerikan, sang maling mengurungkan niatnya untuk mencuri. Dengan kata lain: Anda baru saja menyelamatkan tempat yang Anda jaga. Betul?" lanjut King Hades. Saya mengangguk. "Masalahnya, yang tau bahwa Anda menyelamatkan tempat itu hanyalah sang maling pak. Betul? Bahkan Anda sendiri tidak tahu bahwa Anda sudah menjadi seorang pahlawan," kalimat King Hades yang terakhir ini mulai menstimulasi otak saya.

"Gimana kalo sang maling tidak terima? Dan datang lagi keesokan harinya? Saat itu saya yang bertugas. Melihat aura saya yang tak mengerikan seperti Anda, sang maling memutuskan untuk masuk. Karena saya memiliki kemampuan yang setara dengan Anda, saya bisa meringkus maling tersebut. Tapi upaya saya meringkus sang maling membuat beberapa barang rusak," King Hades menjelaskan lanjutan dari skenario yang digunakannya. "Lucunya, pak, saya bisa jadi dianggap sebagai pahlawan, karena berhasil menggagalkan upaya sang maling, sekaligus memasukan dia ke dalam penjara. Yang berarti berkuranglah satu kriminal".

Mereka seringkali hanya melihat yang terlihat. Mereka tak melihat apa yang tidak terlihat

Saya mulai mengerti inti dari penjelasan sahabat saya. Dua orang dengan kualitas setara, hanya karena perbedaan timing, bisa mendapat perlakuan ataupun penghargaan yang berbeda. Saya yang berhasil menggagalkan upaya sang maling tanpa menimbulkan kerusakan apapun tidak dianggap sebagai pahlawan. Semata-mata karena tidak ada yang tahu apa yang telah saya 'lakukan'. Sementara, King Hades yang memiliki kemampuan seperti saya bisa mendapat penghargaan. Padahal upaya dia menggagalkan aksi pencurian diwarnai pengrusakan. Silent Evidence. Walaupun saya adalah seorang pahlawan, tidak ada bukti yang menyuarakan hal tersebut. Persis seperti yang King Hades katakan: manusia hanya melihat apa yang terlihat (dalam hal ini maling yang tertangkap), namun tak bisa melihat apa yang tidak terlihat (dalam hal ini maling yang tak jadi beraksi karena melihat saya). Lebih parahnya lagi, kadang manusia bisa berpikir bahwa saya tidak berguna, karena pada saat saya bertugas 'tak terjadi apa-apa'. Mereka lupa bahwa memang itulah tujuan mempekerjakan seorang petugas keamanan. Agar tak terjadi apa-apa.

Tidak adil rasanya kalau saya berharap agar semua manusia bisa melihat yang tidak terlihat seperti King Hades. Bagaimana bisa saya mengharapkan manusia rata-rata untuk memiliki infrared vision ala King Hades? Tapi yang jelas, penuturan sistematis 'sang raja' membuat saya berpikir ulang mengenai apa yang saya pikir berguna atau tidak. Juga membuat saya lebih waspada dalam menilai berbagai macam situasi. Sherlock Holmes berhasil memecahkan kasus karena 'sang anjing tak menggonggong'. Bagi dia, itulah silent evidence. Sang anjing tak menggonggong karena penjahatnya adalah orang yang dia kenal. Kemampuan untuk melihat yang tidak ada, yang seharusnya ada (gonggongan anjing), membuat sang detektif terkenal ini berhasil memecahkan kasus. Mungkin saja, kalau kita juga bisa melihat silent evidence, hidup kita juga akan jadi lebih produktif. Kita juga akan lebih bisa memberikan penghargaan kepada yang berhak.


Rabu, 28 Oktober 2009

Bedanya 'Mungkin' Dengan 'Belum Tentu'

"Apa bedanya antara 'Mungkin' dengan 'Belum tentu' pak?" tanya King Hades. Saya hanya bisa bengong. "Kok pertanyaan seperti itu diajukan ya?" pikir saya. Tapi kalau tidak begitu, bukan sahabat saya. Bagi beliau, pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki nilai praktikal seperti itu menstimulasi. "Dua-duanya menunjukan ketidakpastian pak," jawab saya akhirnya. "Kalau bedanya sih, saya kurang tau ya pak?" lanjut saya.

King Hades mengangguk. "Bedanya ada dua pak. Yang pertama, 'mungkin' biasa diucapkan dengan nada lebih tinggi. Seperti dalam kalimat 'Kalau Anda berinvestasi, mungkin Anda bisa kaya'. 'Belum tentu' diucapkan dengan anda lebih rendah. Seperti dalam kalimat 'Walaupun Anda berinvestasi, belum tentu Anda akan jadi kaya'," tutur beliau. Saya merenungkan kata-kata tersebut. Mulai terlihat perbedaan antara dua kata tersebut. 'Mungkin' banyak kita gunakan dalam konteks positif. Sementara 'belum tentu' lebih banyak kita gunakan untuk menggambarkan sesuatu yang negatif. "Mungkin kalau anak Anda dioperasi, dia masih bisa sembuh" dan "Walaupun anak Anda dioperasi, belum tentu dia bisa sembuh". Dua kalimat yang menunjukan ketidakpastian. Uncertainty. Namun bayangkan perasaan Anda ketika mendengar kalimat yang pertama. Tentunya Anda jadi lebih semangat bukan? Bila kalimat kedua yang diucapkan oleh dokter Anda, maka Anda akan kehilangan semangat.

"Kata-kata yang kita gunakan menggambarkan siapa kita pak. Selain itu, mereka juga bisa mengubah perspective kita akan suatu hal. Sebagai contoh, banyak iklan yang menggunakan kata-kata seperti 'hanya dengan ... ribu rupiah'. Perhatikan penggunaan kata 'hanya'. Kata tersebut digunakan untuk mengecilkan harga yang harus dibayar. Paling tidak di kepala para pendengar," urai King Hades panjang lebar. Saya memikirkan aplikasi dari konsep menarik tersebut. Saya membayangkan saat saya putus asa. Saya ingat-ingat kembali kata-kata apa yang saya gunakan ketika itu. Begitu pula saat bersemangat. Saya mengingat apa yang saya katakan pada saat itu. Anda juga tentunya bisa melakukan simulasi serupa. Ingatlah kata-kata apa yang menjadi 'trademark' Anda ketika Anda putus asa. Ingat juga kata-kata 'trademark' Anda ketika sedang bersemangat.

"Kata-kata yang kita gunakan ... mengubah perspective kita"

"Seringkali, kita tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi pak. Tapi, hampir selalu kita bisa menentukan apa yang akan kita lakukan terhadap apa yang terjadi" Kalimat dari King Hades tersebut selalu saya ingat. Dan salah satu yang bisa kita lakukan adalah memilih kata-kata yang kita gunakan. 'Mungkin' dan 'Belum tentu' sama-sama menggambarkan ketidakpastian. Tapi yang satu memberikan rasa positif, yang satu negatif. Mana yang Anda pilih? Kata-kata kita tidak mengubah fakta. Tapi, dengan menggunakan kata-kata yang benar, kita bisa mengubah sikap kita terhadap fakta yang kita hadapi.


Jumat, 25 September 2009

Seandainya Semua Pria Seperti King Hades

Saat saya membuat post mengenai infrared vision, saya teringat sebuah hal lain yang membuat saya merasa ‘teng’. Dan hal ini masih berkaitan dengan kemampuan sang pria mata keranjang melihat hal-hal yang tak bisa dilihat oleh orang awam pada umumnya.

Berikut percakapan yang pernah diceritakan oleh sahabat saya.

Seorang wanita dan seorang pria duduk berhadapan di sebuah cafĂ©. Terlihat dari wajah sang wanita bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. “Aku takut Ko. Kalo dia ga mau lagi sama aku gimana ya?” keluhnya. Sang pria hanya diam. Setelah cukup lama, dia bertanya, “Apa yang bikin kamu takut dia ga mau lagi sama kamu?” “Koko gimana sih? Kan udah jelas? Kalo dia sampe tau, mana mau lagi dia?” jawab wanita itu agak ketus. Karena ‘kesalahan’ yang dibuatnya di masa lalu, sang wanita jadi takut bahwa pasangan yang sekarang akan meninggalkannya begitu tahu soal ‘kesalahan’ tersebut. Masalahnya, cepat atau lambat, pasti hal ini akan diketahui.

“Bagus…” jawab sang pria. “Kok bagus?” sang wanita tambah naik darah. “Ya. Bagus. Karena kalau dia sampai tinggalkan kamu cuma gara-gara masalah sepele itu, berarti kan dia ga pantas dapat wanita seperti kamu. Betul? Seorang pria kan sudah selayaknya bisa menghargai wanita dari berbagai aspek. Daripada harus hidup bersama pria yang picik seperti itu, lebih baik kamu terus sendiri. Bagus kalau ketahuan sekarang. Daripada nanti-nanti? Lebih baik ketahuan sekarang, kalau dia memang picik, ya sudah. Bubar saja. Jalinlah hubungan dengan pria yang bisa menghargai kamu lebih dari sekedar ‘piala’,” jawab sang pria panjang lebar. “Iya. Memang mestinya gitu. Tapi, mana ada sih cowo yang kaya gitu?” tangkal sang wanita. Sang pria hanya tersenyum. Mungkin karena sedang emosi, sang wanita lupa alasan mengapa dia menceritakan masalah ini kepada pria yang ada di hadapannya. Ya. Alasan mengapa dia berani menceritakan kejadian yang, menurutnya, memalukan ini adalah karena pria yang ada di hadapannya adalah ‘cowo yang kaya gitu’.

"Jalinlah hubungan dengan pria yang bisa menghargai kamu lebih dari sekedar ‘piala’"

Saya tidak tahu siapa pria yang ada di hadapan wanita itu. Tapi yang jelas, pria yang ada di hadapan saya waktu saya mendengar kisah ini, juga adalah ‘cowo yang kaya gitu’. Seharusnya saya kenalkan saja ya, wanita itu pada sahabat saya. “Saya tidak habis pikir pak. Bisa-bisanya seorang pria meninggalkan kekasihnya hanya gara-gara selaput dara,” ujarnya dengan sedih. “Buat Anda itu tidak penting Pak?” saya bertanya, sedikit heran. “Pak, Anda bertanya seperti itu, sama saja dengan bertanya ‘Apakah huruf pertama dari nama depan wanita penting?’”, jawab King Hades sambil tertawa. Luar biasa! Bahkan di negara barat yang lebih bebas saja, hal seperti ini masih relevan. Tapi di hadapan King Hades, hal yang banyak dicari oleh banyak pria ini sama tidak pentingnya dengan huruf pertama dari nama depan sang wanita. Memang. Banyak teman-teman pria saya yang bilang tidak mempermasalahkan urusan selaput dara. Walaupun sebenarnya mereka merasa itu adalah suatu ‘nilai tambah’. “Kalau sudah sayang, ya tidak apa-apa. Tapi kalau bisa sih…” begitu kira-kira pandangan yang berlaku di lingkungan pergaulan saya.

Karena itu saya cukup terkejut mendengar pandangan King Hades soal ini. Bukan hanya bisa menerima atau mentolerir: dia sama sekali tidak peduli. Sama tidak pedulinya dengan nama hewan peliharaan sang wanita atau dengan huruf terakhir nama keluarganya.

“Dilihat dari sisi manapun, itu tidak ada artinya pak,” kembali infrared visionnya beraksi. Secara logika memang demikian. Masalahnya, manusia adalah makhluk emosional. Banyak tindakan kita yang didasari emosi. Saya yakin, pria-pria yang mementingkan selaput dara juga ‘tahu’ bahwa yang mereka inginkan itu tak ada gunanya. Tapi mereka ‘merasa’ lebih puas kalau mendapatkannya.

Seandainya semua pria berpandangan seperti King Hades… “Kalau semua pria berpandangan seperti saya, pialang selaput dara bisa gulung tikar semua pak,” ujarnya sambil tertawa. Ya. Pialang selaput dara bisa gulung tikar. Dan kaum hawa bisa bebas dari perasaan takut yang seharusnya tak perlu ada. Kalau semua pria berpandangan seperti King Hades, tak akan ada lagi wanita yang bernasib seperti wanita dalam kisah tadi. Tapi, yah, ini hanya angan-angan saya belaka…



Rabu, 16 September 2009

Ulah King Hades: Mendekati SPG

Waktu itu saya sedang berjalan-jalan bersama King Hades. Di sebuah mal, sedang diadakan pameran electronic. Kami yang berada di lantai 2 menyempatkan diri untuk melongok, melihat pameran di lantai bawah. “Pak, sebentar,” kata sahabat saya. Ternyata ada yg menarik perhatiannya. “Hmmm…. Anda pernah bertanya bagaimana caranya mendekati wanita kan pak?” tanya beliau. Saya mengangguk. “Sekarang saya akan tunjukan secara langsung pak. Ada SPG yang cukup menarik. Akan saya dekati dia. Perhatikan baik-baik ya.” Wah! Kesempatan emas ini! Memang, saya pernah beberapa kali bertanya pada sahabat saya cara mendekati wanita. Walaupun, tentunya, belum pernah saya praktekan. Tapi, bisa melihat ‘sang master’ beraksi, LIVE, adalah kesempatan yang tak boleh saya lewatkan.

Kami menuruni escalator dan langsung menuju pameran. King Hades berjalan di depan. Semakin dia mendekati tempat pameran, semakin cepat jantung saya berdetak. Tinggal beberapa langkah lagi, King Hades sudah mencapai SPG yg dituju. Tiba-tiba saja sang SPG membalikan badan dan pandangannya bertemu dengan pandangan King Hades. Namun tak terjadi percakapan. Sang SPG kembali membagikan brosur kepada pengunjung. King Hades kini sudah berada di sebelahnya. Saya menantikan saat-saat dimana sahabat saya memulai percakapan. Eh, tak taunya, dia menghampiri saya dan berkata “Ayo pak. Sudah.” “Hah! Katanya mau deketin pak?” tanya saya penasaran. “Iya. Sudah kan? Tadi memangnya masih kurang dekat pak?” jawab King Hades sambil tersenyum. “Lho? Kalo gitu doang, saya juga bisa dong pak?” “Iya. Gampang kan pak?” jawabnya sambil ngeloyor pergi.

Kurang ajar! Ternyata mendekati SPG maksudnya mendekati posisi dia berdiri! Kalau begitu, siapa saja juga bisa.

Minggu, 06 September 2009

Berjalan Terseok-seok Sambil Menantikan Datangnya Cahaya Itu

Bagi saya hidup begitu misterius, banyak hal di dalamnya tidak pernah bisa diduga. Apapun bisa terjadi, hari ini dunia begitu indah, besok belum tentu.

Saat ini hidup rasanya seperti berada di dalam sebuah terowongan gelap yang tidak terlihat di mana ujungnya, gelap sekali tanpa ada cahaya sedikitpun. Padahal sebelumnya dunia terasa begitu cerah.

Ya, Aneh sekali, walaupun masih berada di bumi yang sama seperti yang saya injak kemarin, semua terasa berubah 180 derajat. Yang kemarin terasa hangat dan begitu bersahabat, sekarang begitu dingin dan menakutkan.

Berada dalam situasi seperti itu, rasa takut dan putus asalah yang dengan cepat akan menemani tanpa perlu diundang. Dua hal yang sebenarnya tidak saya sukai, tapi rasanya sulit sekali untuk menyuruh mereka pergi.

Semua terasa menakutkan dan cahaya yang bernama harapan seakan menghilang ditelan pekatnya kegelapan di dalam terowongan itu. Semuanya begitu gelap, begitu dingin dan mengerikan.

Memilih untuk menyerah dan pasrah akan keadaan saat itu sepertinya menjadi pilihan terbaik. Begitu menggoda untuk memutuskan berhenti, cukuplah sampai di sini, tak ada lagi yang bisa dilakukan.

Toh dunia akan tetap berputar, satu orang manusia lagi yang meninggal di dalam terowongan gelap ini tidak akan membuat perbedaan yang berarti di dunia ini.

Ya, menyerah saja, biarlah kegelapan ini menjadi akhir semuanya. Tapi entah kenapa, walaupun pilihan ini begitu menggoda, rasanya ada yang mengganjal..

"saya memilih untuk terus berjalan"

Hanya berdiam diri di dalam kegelapan terowongan ini sampai kapanpun, saya tak akan pernah melihat cahaya.

Kalau memutuskan untuk berjalan walaupun tak tahu kapan akan menemukan tempat keluarnya, mungkin suatu hari nanti saya akan menemukan ujung dari terowongan ini, dan saya akan merasakan kembali dekapan cahaya yang saya rindu-rindukan. Walaupun sebenarnya tak ada jaminan bahwa pasti berhasil keluar dari kegelapan itu, walaupun tak tahu ancaman seperti apa yang siap menerkam, walaupun ternyata terowongan itu ujungnya buntu.

Setidaknya gagal dalam perjuangan mencari cahaya terlihat lebih gagah daripada pasrah dan menyerahkan diri dalam kegelapan. Memutuskan berjalan dalam situasi seperti itu membutuhkan keberanian. Memutuskan tetap berjalan membutuhkan usaha lebih daripada hanya diam dan pasrah.

Sebuah pertemuan dengan King Hades, mengingatkan saya tentang hal-hal ini, dia pernah berkata: "Pak, hidup adalah pilihan, kita bisa memilih untuk menyerah atau terus berusaha. Keduanya adalah pilihan yang berani, menyerah berarti menerima dengan gagah segala konsekuensinya. Terus berusaha sekerasnya walaupun tak ada jaminan usahanya akan membawa hasil, inipun pilihan yang gagah. Walaupun dunia selalu memandang rendah pada kata 'menyerah' tapi percayalah, diperlukan keberanian tersendiri untuk melakukannya. Kita perlu angkat topi untuk orang-orang yang menyerah tersebut karena mereka dengan berani membuang semua kemungkinan-kemungkinan yang mungkin bisa mereka raih, jika mereka tidak memutuskan menyerah. Bukankah demikian, Pak?" Saat itu saya hanya terdiam merenung, tentang apa yg disampaikan oleh King Hades.

Dan karena kata-katanyalah saya memutuskan, dilemparkan ke dalam terowongan seperti apapun, segelap apapun, selama saya memilih untuk terus berjalan, terus bertahan, mungkin suatu hari cahaya itu akan terlihat.