Sabtu, 31 Juli 2010

Mengejar Kekecewaan

Mungkin Anda sudah sering mendengar istilah 'Mengejar Impian'. Tapi 'Mengejar Kekecewaan'? Tanpa dikejarpun, kekecewaan pasti akan datang dengan sendirinya. Yang lucunya, sahabat saya justru punya hobi mengejar kekecewaan.

"Pak! Mengapa Anda sedahsyat itu?" tanya saya suatu ketika. King Hades menjawab "Saya senantiasa mengejar kekecewaan pak," Kontan saya bengong. Namun mengingat bahwa King Hades memang hobi pakai istilah-istilah aneh, saya segera menelusuri maksud beliau. "Anak pengusaha yang dapat segala sesuatu tanpa harus berjuang seperti Anda mungkin tidak mengerti pak. Kalau kita berjuang, atau paling tidak, saya berjuang, maka hasilnya pasti adalah kekecewaan. Entah berhasil atau gagal. Kalau gagal, kecewa karena gagal. Kalau berhasil, kecewa karena ternyata hasilnya hanya seperti itu saja. Either way, we will be disappointed," lanjutnya.

Menyedihkan sekali kedengarannya. Baik tujuan kita tercapai atau tidak, kita akan kecewa. "Jadi? Mengapa Anda berjuang pak? Bukannya kalo sama-sama kecewa, lebih baik tidak berjuang?" tanya saya penasaran. "Anda mungkin bisa pak. Anda kan dikaruniai kedamaian? Tapi saya tidak bisa. 'Penyakit' yang saya derita mengharuskan saya untuk terus berjuang. Walaupun saya tau pada akhirnya saya pasti akan kecewa. Saya punya banyak keinginan. Tidak seperti Anda yang sederhana," jawab beliau.

Keinginan, menurut King Hades, adalah liability. Semakin banyak keinginan, semakin menderitalah seseorang. Memang, beberapa orang yang gigih mungkin berhasil mendapatkan yang mereka inginkan. Tapi, seringkali apa yang mereka dapatkan itu tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan sebelumnya. Ambilah contoh sahabat saya. Dulu beliau ingin terjun ke dunia saham. Sekarang, bukan hanya sekedar main saham, bahkan bisa bersama saya tertawa-tawa kalau mendengar wawancara di radio tentang perdagangan saham (baca The Wisdom of PKL). Apakah beliau puas? Justru kekecewaan yang didapatkannya. "Sudah susah-susah belajar, ternyata kok hasilnya hanya seperti ini ya?" mungkin itu yang ada di pikiran beliau. Beliau juga pernah bercerita kalau dia pernah 'lupa bahagia'. Kejadiannya adalah ketika beliau membeli sebuah mobil sport. "Waktu saya masukan kunci mobil, dan menyalakan mesin, seharusnya saya merasa excited pak. Tapi, saya lupa untuk bahagia. Setelah nyetir sampe rumahpun, saya sama sekali tidak merasakan adanya excitement sedikitpun. Mengecewakan sekali bukan?" tutur 'sang raja'. Banyak lagi contoh-contoh yang bisa saya ceritakan. Dalam aspek karir, percintaan, keuangan. King Hades yang jauh lebih berpengelaman dari saya tentu sudah mencapai lebih banyak dari saya. Tapi yang didapatnya selalu kekecewaan. Kecewa karena gagal. Dan kecewa karena hasil yang diperoleh tak seperti yang diharapkan.

"Either way, we will be disappointed"

Memikirkan hal tersebut, kadang saya bersyukur diciptakan sebagai orang yang sederhana. Orang yang tak tau apa-apa. King Hades sering emosi dengan kebodohan saya. Kadang saya merasa tidak enak juga, membuat komunikasi menjadi kurang lancar. Tapi yah, mungkin karena 'keluguan' saya itulah saya bisa hidup damai. Saya tidak tau apa yang saya tidak tau. Jadi saya juga tak ambil pusing untuk mencari tau. Ada kalanya saya ingin menjadi seperti kawan saya itu. Terkesan enak sekali. Bekerja di perusahaan asing, bisa menginvestasikan uang, memiliki wawasan luas, cerdas, berbakat. Tapi kalau melihat beliau pada saat sedang murung (dan itu bisa dibilang hampir setiap saat), saya jadi merasa beruntung saya tidak seperti dia. Apakah memang kebahagiaan itu datang bersama kesederhanaan? Menurut King Hades demikian. "Orang-orang yang sederhana, mereka yang tidak tau what they're missing adalah empunya kebahagiaan pak," kata beliau suatu ketika. Ya. Kalau berdasarkan penjelasan seperti itu, memang benar. Orang-orang tersebut tidak 'mengejar kekecewaan'. Mereka tidak perlu melakukannya. Kalaupun mereka melakukannya, mungkin tidak sesering King Hades.

Ada berbagai macam tipe orang. Ada yang simple, namun tidak nyaman hidup seperti itu. Entah karena tuntutan orang tua, teman, atau semata-mata karena kesadaran sendiri. Adalah baik bagi orang-orang seperti itu untuk 'mengejar kekecewaan'. Merasakan sendiri pahitnya hidup. Pahitnya kegagalan, dan pahitnya keberhasilan. Ada pula yang sudah pasrah dengan hidupnya. Apabila Anda termasuk kategori ini, bersyukurlah. Anda akan hidup damai selamanya. Tidak ada lagi yang perlu Anda perjuangkan. Mungkin saya termasuk kategori ini. Saya tidak tau apa yang saya kejar. Saya hanya menjalani hari-hari saya dengan damai. Tapi selama saya bersahabat dengan King Hades, saya pasti akan senantiasa mendapatkan cerita-cerita maupun kata-kata 'berbisa' yang akan membuat ketololan dan kedamaian saya sedikit berkurang.

Senin, 31 Mei 2010

Kalau King Hades Jadi Penguasa Alam Semesta 2

Malam itu saya tengah bersantai di rumah. Menonton sebuah acara di TV. Acara yang menurut saya cukup menarik. Pesertanya adalah suami istri yang mengenakan topeng. Dan di sana mereka membahas masalah rumah tangga. Terlihat seorang istri yang menangis tersedu-sedu. "Saya tahu saya tak bisa menjahit. Karena itu, saya relakan suami saya mengenakan pakaian hasil jahitan wanita lain..." ujar sang istri. Saya mengernyitkan dahi saat mendengar ungkapan wanita tersebut. Anehnya, para penonton di studio bertepuk tangan. Sebagian dengan raut wajah haru. Seolah membiarkan suami mengenakan pakaian hasil jahitan wanita lain adalah hal yang luar biasa.

"Apakah Bapak masih mau menerima istri Anda walaupun dia tak dapat menjahit?" tanya pembawa acara pada sang suami. Sang suami tampak sedikit ragu. Tapi kemudian, dengan wajah yang (sepertinya) mantap (maklum, pake topeng jadi ga keliatan jelas), dia mengangguk. "Iya!" jawabnya lantang. Hadirin di studio kembali bertepuk tangan. Saya hanya bisa bengong. "Saksikan kelanjutan acara ini setelah pesan-pesan berikut," kata sang pembawa acara. Kemudian... iklan.

Sambil masih terbingung-bingung, saya bangkit untuk mengambil minum. Tiba-tiba saja, pintu kamar saya terbuka. Dan... KEMBARAN saya dari dimensi lain muncul di depan saya. "Hah!" teriak kami berdua serentak. "Jangan-jangan gue salah masuk dimensi lagi ya?" katanya sambil segera memeriksa gadgetnya. "Nah! Ternyata sekarang lu yang salah!" ujarnya sambil tersenyum. Saya buru-buru minta dipulangkan ke dimensi saya. Tapi, saat dia bersiap-siap memulangkan saya, acara TV tersebut kembali dimulai.

"We can't be everything for everybody"


"Tunggu! Gue pengen nanya-nanya dulu dong. Ini acara TV kok aneh banget sih? Suami pake baju jahitan wanita lain saja kok bisa heboh?" tanya saya dengan penuh penasaran. Sekarang gantian kembaran saya yang pasang tampang bingung. "Lha? Iya lah! Namanya juga udah merit. Kalo udah merit, kan suami cuma boleh dapet apa-apa dari istri? Cuma boleh makan masakan istri, cuma boleh pake baju hasil jahitan istri, cuma boleh nonton film yang dibintangi sang istri, cuma boleh naik mobil yang dibuat sang istri, dan lain-lain," jawab kembaran saya panjang lebar. Nah lu! "Kalo istrinya ga bisa masak? Ga bisa jahit? Atau suami ga puas dengan mobil buatan istri? Masa ga boleh menikmati mobil buatan orang lain? Masakan wanita lain?" tanya saya mencecar. "Yah... mau bagaimana lagi? Itu perintah King Hades," jawab kembaran saya lirih. King hades! Lagi-lagi King Hades! Bikin aturan aneh-aneh aja dia! Tapi, kalau mau dipikir, King Hades yang saya kenal memang juga radikal. Bedanya, dia seorang capitalist. "Kalo di dimensi lu, emangnya suami boleh menikmati hasil karya wanita selain istrinya? Boleh dia dapat kepuasan dari masakan wanita lain?" kembaran saya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Ya bolehlah!" jawab saya setengah berteriak. "Namanya manusia itu kan tidak sempurna. We can't be everything for everybody," jawab saya menirukan kata-kata King Hades. "Akan selalu ada yang tak bisa kita berikan untuk orang yang kita cintai. Jadi, kalau kita menginginkan kebahagiaan dia, sudah selayaknya kita biarkan dia mendapatkan hal-hal yang tidak bisa kita berikan dari orang lain," lanjut saya dengan emosi. "Wah! Coba gue bisa migrasi ke dimensi lu ya..." kata kembaran saya sambil menerawang. Tak lama kemudian, saya sudah kembali ke dimensi saya.

Sambil mengambil minum, saya membayangkan betapa sengsaranya orang-orang yang hidup di dimensi kembaran saya. Bayangkan, kalau sudah menikah, cuma boleh mendapatkan segala sesuatu dari pasangannya. Cuma memperbolehkan pasangan memakai baju hasil jahitan orang lain saja sudah dianggap hebat. Kalau di dimensi ini, tiap hari kita memakai pakaian hasil jahitan orang yang bukan pasangan kita. Kita mendapatkan kepuasan dari mobil hasil buatan orang lain. Kita menikmati masakan hasil karya orang lain. Tak perlu harus dari pasangan kita. Seandainya King Hades versi sana bisa bertemu dengan King Hades versi sini... King Hades versi sini selalu menekankan pentingnya menghargai orang. Apalagi orang yang kita cintai. "Sehebat-hebatnya kita, selalu ada hal-hal yang tak bisa kita berikan untuk mereka pak," ujar 'sang raja' suatu ketika. Saat mengucapkan kalimat itu, tersirat kesedihan di wajah beliau. Tentu, King Hades ingin jadi segalanya bagi orang yang dia cintai. Tapi dia tau bahwa itu tidak mungkin. "Karena itu, lakukan yang terbaik yang kita bisa. Terus tingkatkan kapasitas kita. Tak perlu kita menjadi segalanya bagi orang yang kita cintai. Yang penting kita bisa memberikan segala yang kita mampu untuk kebahagiaan dia," tukas beliau.

Sambil mematikan lampu dan bersiap tidur, saya menggumam, "Seandaianya King Hades jadi penguasa alam semesta..."

Sabtu, 03 April 2010

Hutang Pangkal Kaya

Sebagai orang yang bertanggung jawab mengurus keuangan perusahaan, kadang saya cukup pusing mengurus soal hutang. Pada saat seperti itu, saya teringat pada sahabat saya, King Hades. Beliau konon memiliki hutang yang besarnya luar biasa. Paling tidak, dengan keadaan saya sekarang, saya tak akan pernah bisa melunasi hutang sebesar itu (membayar bunganya saja tidak bisa). Kesempatan untuk bertanya soal mengelola hutang tiba pada saat beliau menyambangi saya.

"Pak, Anda kan punya hutang dalam jumlah besar? Saya kadang bingung. Anda sering merintih karena hidup terjepit hutang. Tapi, Anda masih sempat-sempatnya pergi berkencan? Bahkan seminggu bisa 3-4 kali? Asumsi saya, berkencan kan perlu uang pak?" tanya saya tanpa membuang waktu. King Hades tersenyum. "Iya pak. Tak ada yang gratis," jawabnya. "Lalu? Hutang Anda gimana? Kok Anda terkesan tetap bisa menjalankan aktivitas Anda? Saya saja yang tak berhutang ini kadang kesulitan," tanya saya lagi. Jawaban beliau menjadi suatu masukan yang sangat berarti buat saya.

Anda tentu sering mendengar pepatah 'hemat pangkal kaya'. Itu adalah pepatah yang sering didengung-dengungkan oleh orang tua maupun guru. Tapi, bagi King Hades, pepatah yang berlaku adalah 'hutang pangkal kaya'. Jadi? Apa sebaiknya kita semua berhutang sebanyak-banyaknya? Well, tidak semudah itu. Bagi orang rata-rata, memang lebih bagus tidak berhutang. Atau kalopun sampai berhutang, segera lunasi secepatnya. Tapi, King Hades bukan orang rata-rata. Jenis hutangnyapun berbeda dengan yang biasa dimiliki oleh orang rata-rata. Sementara orang pada umumnya memiliki hutang konsumtif (kartu kredit misalnya), King Hades memiliki hutang produktif (hutang yang digunakan untuk membeli aset). Sementara orang lain bekerja keras membayar bunga dari hutang mereka, aset yang dibeli King Hades dengan hutang tersebutlah yang membayar bunganya.

"Ingat: aset tersebut harus mampu membayar bunga yang bersangkutan"


Perbedaan inilah yang membuat King Hades masih bisa berkencan walaupun hutangnya segunung. Bayangkan: berhutang, namun tidak seperti berhutang. Menarik sekali bukan? Namun sebelum Anda segera menghubungi bank Anda dan meminjam uang, pastikan dulu Anda mengerti barang seperti apa yang harus Anda beli. Ada alasan mengapa saya bilang King Hades bukanlah orang rata-rata. Sementara pria pada umumnya menghabiskan masa mudanya untuk berpacaran (atau paling tidak cari pasangan), King Hades menggunakan masa itu untuk belajar berinvestasi. Bisa dibilang beliau tak memiliki masa muda. 'Pengorbanan' seperti inilah yang membuat beliau sanggup memanfaatkan hutang untuk memperkaya dirinya. Konon kabarnya, jurus ini beliau pelajari dari ayahandanya.

"Hutang itu tak lebih dari turbo boost pak. Kalau Anda menuju ke arah yang benar, maka itu kan membantu Anda untuk tiba lebih cepat. Tapi kalau arah Anda menuju ke 'tembok', maka hutang juga akan membantu Anda untuk lebih cepat bonyok," ujar sahabat saya yang juga penggemar mobil sport ini suatu ketika. Ya. Saya rasa, intinya hutang tak lebih dari sekedar alat. Gunakan alat itu dengan baik, kita akan meraup hasilnya. Sebaliknya, apabila disalahgunakan, kita akan menanggung akibat buruknya. Sampai sekarang, saya belum mempraktekan jurus tersebut. Tapi apabila Anda tertarik, mulailah dengan mempelajari jenis-jenis aset yang menguntungkan untuk dibeli dengan hutang. Ingat: aset tersebut harus mampu membayar bunga yang bersangkutan. Dan tidak semua hutang sama. Hutang konsumtif cenderung memiliki bunga yang jauh lebih tinggi dibanding hutang produktif. Ironisnya, jauh lebih mudah mendapatkan hutang konsumtif. Ingat-ingat saja terakhir kali Anda mengajukan aplikasi untuk kartu kredit. Sementara, untuk hutang produktif, seperti yang digunakan King Hades, Anda terlebih dahulu harus memiliki aset yang cukup besar. Barulah Anda bisa mengakses hutang dalam jumlah lebih besar dan bunga lebih kecil.

Akhir kata, apabila Anda adalah orang yang siap membayar harga lebih, siap untuk meluangkan waktu dan tenaga demi mendalami investasi, silakan Anda mempertimbangkan pepatah 'hutang pangkal kaya'. Namun apabila Anda orang yang merasa bahwa dunia investasi bukan dunia Anda, pepatah 'hemat pangkal kaya' adalah pepatah yang dapat Anda ikuti untuk meningkatkan kualitas finansial Anda.

Kamis, 01 April 2010

Si Ayam dan Sang Naga

"Jangan mentang-mentang tampan dan anak pengusaha, Anda merasa pasti sukses pak. Itu cuma ada di film. Tampan saja tidak cukup," demikian kata King Hades suatu ketika. Seperti yang sudah ditulis beliau beberapa waktu lalu, kesenjangan status di antara kami berdua memang cukup besar. Saya yang sudah menjadi pimpinan perusahaan, dengan King Hades yang 'hanya' pegawai menengah. Namun hal tersebut tak menghalangi kami untuk tetap bersahabat. Sampai baru-baru ini. Rasa iri yang diungkapkan King Hades semakin memuncak. Beliau merasa bahwa kerja kerasnya sia-sia. "Anda, si beep beep beep (sensor) mana tau rasanya berjuang? Rasanya memikul tanggung jawab?" maki King Hades ketika saya menanyakan kabarnya. Ga nyambung bukan? Tapi itulah yang terjadi. Semakin maju karir beliau, semakin tebal koceknya, semakin banyak pengalamannya, semakin seringlah keluar serapahannya. Penyebabnya cuma satu: rasa iri pada pria tampan yang kerjanya hanya main-main saja ini.

Kekayaannya yang ribuan kali lebih banyak dari saya sama sekali tak bisa meredakan kemarahan beliau. "Anda tak perlu khawatir apa-apa pak! Segala sesuatu sudah terjamin. Pernahkah Anda merasakan tekanan untuk membayar cicilan? Kebutuhan sehari-hari? Ancaman terhadap karir anda? Tidak pernah bukan? beep beep beep (sensor) seperti Anda kan dengan mudah mendapatkan segala yang Anda butuhkan," begitulah makian 'sang raja' yang sekarang cukup sering saya dengar. Rasanya, sampai kesenjangan status di antara kami berdua menyempit, saya masih akan mendapatkan kata-kata seperti itu.

Terus terang saya heran mengapa King Hades bisa iri pada saya. Boleh jadi saya adalah sang pimpinan. Tapi jabatan itu saya dapatkan bukan setelah saya membuktikan diri bahwa saya mampu. Jabatan itu saya dapat semata-mata karena saya adalah putra sang pemilik. Di sisi lain, kemajuan King Hades dalam karirnya didapat melalui perjuangan. "Tidak ada rahasia pak. Yang ada hanyalah kesengsaraan," jawab beliau ketika saya tanya rahasia kedahsyatannya. Pada saat saya mengungkapkan keinginan saya untuk ikut sengsara, beliau langsung tertawa. "Anda? Ingin sengsara?" tanyanya meremehkan. Anehnya, mendapatkan perlakuan seperti itu, saya justru lebih senang dibandingkan mendapatkan pujian-pujian. Saya merasa kata-kata makian dari beliau memacu saya untuk terus berjuang. Walaupun saya tak yakin apakah yang saya sebut sebagai 'perjuangan' sesuai definisi King Hades. Kalau disuruh bertaruh, saya lebih memilih untuk bilang bahwa itu tidak sama. Di mata saya, King Hades adalah seorang pria yang dahsyat. Kecerdasan, pengalaman, kegigihan, dan perjuangan beliau menjadi inspirasi yang luar biasa bagi saya. Dan saya bertambah kagum lagi setiap kali membayangkan hal-hal seperti apa saja yang sudah dilalui beliau hingga beliau bisa sampai seperti sekarang ini. Yang pasti, hal-hal tersebut belumlah pernah saya lalui.

"Tampan saja tidak cukup"


Dulu, saya suka mengatakan bahwa saya ini adalah ayam, dan beliau adalah rajawali. Dan adalah hal yang aneh kalau dua makhluk ini bisa berkawan. Sekarang, saya mengatakan bahwa saya adalah (masih) ayam, dan beliau adalah naga. Dan lebih aneh lagi kalau dua makhluk ini bisa berkawan. Seorang kawan King Hades memberikan jawaban: 'ayam bersahabat dengan naga, jadinya naga punya korban buat disembur'. Ya. Saya selalu mendapat semburan murka beliau.

'Ku slalu membanggakanmu. Kaupun slalu menyanjungku' adalah kalimat yang pernah King Hades ucapkan pada saya. Memang. Dulu beliau sangat mengagumi saya. Menurutnya, saya adalah pria yang ingin maju, berintegritas, cerdas, dan berkharisma. Tapi seperti saya sudah katakan tadi, semakin keras beliau berusaha, semakin terlihatlah bahwa saya 'bagaikan orang yang tak pernah meninggalkan bangku kuliah'. Saya sangat ingin maju. Agar bisa semakin mendekati level sahabat saya ini (anehnya, beliau juga mengatakan hal yang sama). Namun, jangankan berusaha. Harus memulai dari mana saja saya masih suka bingung. Parahnya, beliau tak lagi mau memberikan saran pada saya. "Saran saya kan cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan pak?" sindirnya. Yah... memang ada benarnya sih. Tapi mau bagaimana? Saran sang naga tentunya sulit sekali untuk dijalankan oleh si ayam (King Hades, pengertian dikit dong).

Mungkin masih jauh bagi si ayam yang tampan ini untuk bisa mengangkasa. Tapi, selama masih bersahabat dengan King Hades, selama masih mendapat semburan serapahannya, saya akan senantiasa mendapatkan motivasi untuk terus maju. Saya yakin di antara para pembaca ada yang pernah mengalami hal serupa. Entah Anda ada di posisi King Hades, atau posisi saya. Apabila Anda di posisi sang naga, berbelas kasihanlah sedikit terhadap kawan Anda (jangan seperti King Hades). Apabila Anda di posisi saya, bersyukurlah Anda masih memiliki sahabat yang setia menyembur Anda dengan kata-kata 'motivasi'. Dan jangan lupa mempraktekan saran yang Anda terima (jangan seperti saya).




Minggu, 31 Januari 2010

The Wisdom of Cerberus

Pada kesempatan kali ini, saya memberikan kesempatan pada King Hades untuk memberikan sumbangan artikel. Saat membaca judulnya, saya sudah bisa menduga bahwa isinya pastilah pembohongan publik, seperti yang sudah biasa dilakukan oleh 'sang raja'. Dan ternyata benar. Moga-moga saja para pembaca tidak mendapatkan kesan yang salah. Ambilah makna dari artikel ini (kalau ada), dan lupakan yang tidak masuk akal. Selamat membaca karya King Hades.


The Wisdom of Cerberus

Cerberus sudah menjadi sahabat saya selama jutaan abad. Saya menyaksikan sendiri transformasi Cerberus dari seorang pria yang tenang menjadi, well, pria yang tenang. Dia adalah pria yang cerdas, berkharisma, ulet, gigih, dan bertanggung jawab. Tapi yang sangat menginspirasi dari dia adalah ketenangannya. Di mata saya, dia adalah seorang pria yang sudah mencapai tahap Nirvana, keadaan tanpa keinginan. Mungkin sulit dipercaya. Seorang pria muda, dengan background keluarga pengusaha, bisa tidak tertarik dengan kemewahan dunia. Wanita, judi, mobil, minuman keras, jabatan, semua tidak ada yang menarik di hadapan Cerberus.

Ironis memang. Saya, yang menjadikan kemewahan sebagai tujuan hidup, bersahabat dengan Cerberus yang tak melihat kemewahan sebagai sesuatu yang patut untuk diperjuangkan. Tapi mungkin dengan demikian saya bisa menjadi lebih tenang, melihat Cerberus dalam segala kesederhanaannya berkata 'don mai, don mai'. Berulang kali saya berusaha menekankan pada dirinya bahwa seorang pria sudah selayaknya berjuang demi kemewahan. Demi kekayaan. Tapi, berulang kali pula saya gagal. Ketenangannya.... Melampaui akal sehat manusia. Memang bisa dimengerti. Latar belakang keluarga mungkin turut berperan dalam hal ini. Saya yang harus luntang-lantung setelah lulus kuliah, berjuang mencari penghasilan, dengan Cerberus yang walaupun sempat luntang-lantung, masih memiliki safety net, bisa ikut bekerja di perusahaan keluarga. Mungkin itu yang membuat Cerberus begitu tenang.


"...seorang pria yang sudah mencapai tahap Nirvana"

Inspirasi yang saya dapat dari dia bisa dibilang bukanlah inspirasi yang mendorong untuk terus berjuang. Inspirasi yang bisa kita dapatkan dari pria yang satu ini justru inspirasi yang mendorong kita untuk 'mengurangi kecepatan'. Untuk menjaga agar RPM kita tidak berada di garis merah. Sebagai contoh, waktu saya tertumpas di meja poker, beliau mengatakan 'Tidak apa pak. Toh itu kan Anda lakukan hanya sebagai relaksasi? Untuk melepaskan kepenatan karena kesibukan Anda sehari-hari'. Cerberus adalah seorang pria yang down to earth. Dia selalu mengingatkan pada saya untuk 'melihat ke bawah'. Ya. Kalau memang Cerberus ada di bawah, bagaimana mungkin saya tidak melihat ke bawah? Dia adalah sahabat saya. Dalam percakapan dengan salah seorang penggemarnya, saya sempat mengatakan "Bukan apa yang dia miliki yang membuatnya berbeda dari pria lain. Melainkan apa yang tidak dia miliki: keinginan," Keinginan untuk hidup makmur. Keinginan untuk bergelimang harta. Ketiadaan keinginan ini membuat Cerberus begitu tenang. Berbeda dengan orang-orang lain yang penuh ambisi. Berjuang, mengorbankan tenaga, waktu, dan emosi. Demi memperoleh harta.

Setiap kali saya ingat akan Cerberus, saya merasa segala yang saya miliki, saya nikmati, adalah sia-sia. Bagaimana tidak? Tanpa segala macam kemewahan, Cerberus tetap dapat hidup tenang, damai, dan bahkan menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Kalau ada satu hal yang ingin saya tiru dari Cerberus, itu adalah ketenangannya. Seandainya saya memiliki 10% dari ketenangannya, mungkin hidup saya akan jauh lebih bahagia. Dulu saya memiliki teori bahwa harta berbanding lurus dengan kebahagiaan. Semakin banyak harta, semakin bahagia. Ironisnya, sahabat saya ini adalah salah seorang yang menghancurkan teori saya. Dia dengan gemilang menunjukan bahwa seseorang bisa hidup tenang dan damai tanpa banyak harta. Teori saya: kebahagiaan datang dari luar (eksternal). Tergantung dari apa saja yang bisa kita miliki dan nikmati. Teori Cerberus: kebahagiaan datang dari dalam. Tidak tergantung dari apa yang kita miliki. Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda termasuk orang yang bekerja keras demi kemewahan? Ataukah seperti Cerberus? Seorang yang tenang, yang tidak silau oleh harta. Yang menginspirasi sahabatnya bukan dengan performance yang bombastis. Melainkan dengan ketenangannya.



Demikianlah artikel sumbangan dari King Hades.

Kamis, 19 November 2009

The Silent Evidence

Suatu ketika saya dan sahabat saya sedang menikmati masakan jepang di sebuah mall. Adalah suatu peristiwa yang jarang terjadi kalau saya dan beliau makan di restoran seperti ini. Biasanya kami makan di food court, atau ngobrol-ngobrol di cafe. Yah.. bolehlah, sesekali menikmati masakan seperti ini. Walaupun harus saya akui, ini cukup berat buat kocek saya.

"Anda tau yang disebut dengan silent evidence pak?" tanya 'sang raja'. "Bukti yang diam?" jawab saya, sekedar mentranslasikan kalimat beliau. "Iya pak. Manusia itu makhluk yang aneh. Mereka seringkali hanya melihat yang terlihat. Mereka tak melihat apa yang tidak terlihat," tutur King Hades. Dalam hati saya berpikir "Itu sih Anda saja yang aneh pak. Bagaimana kita mau melihat apa yang tidak terlihat?"

Penasaran dengan istilah aneh tersebut, saya meminta beliau untuk menjabarkan apa yang beliau maksud. "Bayangkan bahwa Anda dan saya adalah 2 orang penjaga malam. Asumsikan kita memiliki kemampuan dan pengalaman yang setara. Anda dinas hari Senin, saya Selasa. Anda Rabu, saya Kamis. Bergantian terus," ujarnya memulai penjelasan. Saya mendengarkan dengan seksama. "Bayangkan juga ada seorang maling yang bermaksud mencuri dari tempat yang kita jaga. Pada hari Senin, Anda yang menjaga. Melihat aura Anda yang mengerikan, sang maling mengurungkan niatnya untuk mencuri. Dengan kata lain: Anda baru saja menyelamatkan tempat yang Anda jaga. Betul?" lanjut King Hades. Saya mengangguk. "Masalahnya, yang tau bahwa Anda menyelamatkan tempat itu hanyalah sang maling pak. Betul? Bahkan Anda sendiri tidak tahu bahwa Anda sudah menjadi seorang pahlawan," kalimat King Hades yang terakhir ini mulai menstimulasi otak saya.

"Gimana kalo sang maling tidak terima? Dan datang lagi keesokan harinya? Saat itu saya yang bertugas. Melihat aura saya yang tak mengerikan seperti Anda, sang maling memutuskan untuk masuk. Karena saya memiliki kemampuan yang setara dengan Anda, saya bisa meringkus maling tersebut. Tapi upaya saya meringkus sang maling membuat beberapa barang rusak," King Hades menjelaskan lanjutan dari skenario yang digunakannya. "Lucunya, pak, saya bisa jadi dianggap sebagai pahlawan, karena berhasil menggagalkan upaya sang maling, sekaligus memasukan dia ke dalam penjara. Yang berarti berkuranglah satu kriminal".

Mereka seringkali hanya melihat yang terlihat. Mereka tak melihat apa yang tidak terlihat

Saya mulai mengerti inti dari penjelasan sahabat saya. Dua orang dengan kualitas setara, hanya karena perbedaan timing, bisa mendapat perlakuan ataupun penghargaan yang berbeda. Saya yang berhasil menggagalkan upaya sang maling tanpa menimbulkan kerusakan apapun tidak dianggap sebagai pahlawan. Semata-mata karena tidak ada yang tahu apa yang telah saya 'lakukan'. Sementara, King Hades yang memiliki kemampuan seperti saya bisa mendapat penghargaan. Padahal upaya dia menggagalkan aksi pencurian diwarnai pengrusakan. Silent Evidence. Walaupun saya adalah seorang pahlawan, tidak ada bukti yang menyuarakan hal tersebut. Persis seperti yang King Hades katakan: manusia hanya melihat apa yang terlihat (dalam hal ini maling yang tertangkap), namun tak bisa melihat apa yang tidak terlihat (dalam hal ini maling yang tak jadi beraksi karena melihat saya). Lebih parahnya lagi, kadang manusia bisa berpikir bahwa saya tidak berguna, karena pada saat saya bertugas 'tak terjadi apa-apa'. Mereka lupa bahwa memang itulah tujuan mempekerjakan seorang petugas keamanan. Agar tak terjadi apa-apa.

Tidak adil rasanya kalau saya berharap agar semua manusia bisa melihat yang tidak terlihat seperti King Hades. Bagaimana bisa saya mengharapkan manusia rata-rata untuk memiliki infrared vision ala King Hades? Tapi yang jelas, penuturan sistematis 'sang raja' membuat saya berpikir ulang mengenai apa yang saya pikir berguna atau tidak. Juga membuat saya lebih waspada dalam menilai berbagai macam situasi. Sherlock Holmes berhasil memecahkan kasus karena 'sang anjing tak menggonggong'. Bagi dia, itulah silent evidence. Sang anjing tak menggonggong karena penjahatnya adalah orang yang dia kenal. Kemampuan untuk melihat yang tidak ada, yang seharusnya ada (gonggongan anjing), membuat sang detektif terkenal ini berhasil memecahkan kasus. Mungkin saja, kalau kita juga bisa melihat silent evidence, hidup kita juga akan jadi lebih produktif. Kita juga akan lebih bisa memberikan penghargaan kepada yang berhak.


Rabu, 28 Oktober 2009

Bedanya 'Mungkin' Dengan 'Belum Tentu'

"Apa bedanya antara 'Mungkin' dengan 'Belum tentu' pak?" tanya King Hades. Saya hanya bisa bengong. "Kok pertanyaan seperti itu diajukan ya?" pikir saya. Tapi kalau tidak begitu, bukan sahabat saya. Bagi beliau, pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki nilai praktikal seperti itu menstimulasi. "Dua-duanya menunjukan ketidakpastian pak," jawab saya akhirnya. "Kalau bedanya sih, saya kurang tau ya pak?" lanjut saya.

King Hades mengangguk. "Bedanya ada dua pak. Yang pertama, 'mungkin' biasa diucapkan dengan nada lebih tinggi. Seperti dalam kalimat 'Kalau Anda berinvestasi, mungkin Anda bisa kaya'. 'Belum tentu' diucapkan dengan anda lebih rendah. Seperti dalam kalimat 'Walaupun Anda berinvestasi, belum tentu Anda akan jadi kaya'," tutur beliau. Saya merenungkan kata-kata tersebut. Mulai terlihat perbedaan antara dua kata tersebut. 'Mungkin' banyak kita gunakan dalam konteks positif. Sementara 'belum tentu' lebih banyak kita gunakan untuk menggambarkan sesuatu yang negatif. "Mungkin kalau anak Anda dioperasi, dia masih bisa sembuh" dan "Walaupun anak Anda dioperasi, belum tentu dia bisa sembuh". Dua kalimat yang menunjukan ketidakpastian. Uncertainty. Namun bayangkan perasaan Anda ketika mendengar kalimat yang pertama. Tentunya Anda jadi lebih semangat bukan? Bila kalimat kedua yang diucapkan oleh dokter Anda, maka Anda akan kehilangan semangat.

"Kata-kata yang kita gunakan menggambarkan siapa kita pak. Selain itu, mereka juga bisa mengubah perspective kita akan suatu hal. Sebagai contoh, banyak iklan yang menggunakan kata-kata seperti 'hanya dengan ... ribu rupiah'. Perhatikan penggunaan kata 'hanya'. Kata tersebut digunakan untuk mengecilkan harga yang harus dibayar. Paling tidak di kepala para pendengar," urai King Hades panjang lebar. Saya memikirkan aplikasi dari konsep menarik tersebut. Saya membayangkan saat saya putus asa. Saya ingat-ingat kembali kata-kata apa yang saya gunakan ketika itu. Begitu pula saat bersemangat. Saya mengingat apa yang saya katakan pada saat itu. Anda juga tentunya bisa melakukan simulasi serupa. Ingatlah kata-kata apa yang menjadi 'trademark' Anda ketika Anda putus asa. Ingat juga kata-kata 'trademark' Anda ketika sedang bersemangat.

"Kata-kata yang kita gunakan ... mengubah perspective kita"

"Seringkali, kita tidak bisa menentukan apa yang akan terjadi pak. Tapi, hampir selalu kita bisa menentukan apa yang akan kita lakukan terhadap apa yang terjadi" Kalimat dari King Hades tersebut selalu saya ingat. Dan salah satu yang bisa kita lakukan adalah memilih kata-kata yang kita gunakan. 'Mungkin' dan 'Belum tentu' sama-sama menggambarkan ketidakpastian. Tapi yang satu memberikan rasa positif, yang satu negatif. Mana yang Anda pilih? Kata-kata kita tidak mengubah fakta. Tapi, dengan menggunakan kata-kata yang benar, kita bisa mengubah sikap kita terhadap fakta yang kita hadapi.